Shining Indonesia, Shining The World, Save The Future Generation

Senin, 24 Maret 2014

Maya di Mataku (poem)



"Maya di Mataku"


Maya, 
Di ufuk tempat matahari terbit
Mentari dini menyinari bumi
Di sana darah tertumpah
Membasahi bumi pertiwi
Pertanda lahirnya bayi ini

Maya, dalam pelukan engkau dibesarkan
Dalam buaian senandung kasih
Ibu Bapa menjagamu selalu
Dalam harapan masa mendatang

Maya, senyummu selalu manis
Dihiasi wajah berlesung pipit
Sinar matamu selalu syahdu
Dihiasi cahaya kebeningan hati

Maya, kaulah bangkit berdiri
Menatap langit, menancap bumi
Memandang  gunung, melihat samudra
Dalam semangat tekad membaja

Maya, dalam renungan kau selalu mencari
Dari dasar relung-relung hatimu
Makna hidup yang sejati

Maya, kau dengar desir angin itu
Kau baca riak gelombang itu
Kau sentuh getaran hidup itu

Maya, suaramu tidak lagi hanya senandung
Suaramu tak lagi hanya nyanyian
Dia telah menggema membahana
Dia telah menggaung di atas persada
Menyentuh hati insani

Maya, derap langkahmu kian menderu
Sorak soraimu gegap gempita
Meniti daratan
Mengarungi samudra
Menjelajah angkasa
Bina Pandu Prestasi Putra Pertiwi

Maya, karyamu mulia
Bina daya manusia
Dalam kesatuan persatuan
Tiada beda ras agama suku turunan

Maya, dalam semangatmu
Dalam darah dan dagingmu
Dalam tulang dan sumsummu
Menyatu kasih dan cinta
Sesama manusia hamba Allah

Maya, telah menyala cahaya di balik dadamu
Cahaya tak kunjung padam
Cahaya keabadian
Dari sinar kasih ilahi

Maya, cintamu mengatasi bencimu
Kasihmu mengatasi dengkimu
Cintamu mengatasi pedihmu
Kasihmu mengatasi irimu
Cinta dan kasihmu adalah nuranimu

Maya, di hati engkau Terpatri
Di hati engkau Melati
Di hati engkau Wangi
Di hati engkau Abdi

Maya, harpanmu tinggi menjulang langit
Kepada bangsa cintamu ini
Segalanya kau relakan
Segalanya kau abdikan
Dalam lindungan kasih Tuhan

Maya, hidup tidak selalu ramah
Ada onak dan durinya
Hidup tidak selalu senyum
Ada derita dan air mata

Maya, hidup juga sebuah harapan
Harapan setiap insan
Hiduplah dalam harapan itu
Seperti api yang telah engkau nyalakan
Hidup menuju keridhaan Tuhan

 Jakarta, 2 April 1997
Puisi ini dipersembahkan di malam peringatan ulang tahun ke-33 
Dr Maya Rumantir MA. Ph.D
Oleh Dr Hasan Anoez dan Dr Husein Anoez (Ayahanda angkat Maya Rumantir )

0 komentar:

Posting Komentar