Shining Indonesia, Shining The World, Save The Future Generation

Senin, 17 Maret 2014

Maya Olivia Rumantir, ‘’Tugas Saya Menjadikan Sulut dan Indonesia Bersinar’’


Apa yang mendorong  untuk maju dalam pemilihan anggota DPD 2014 ?
Yang  mendorong saya,  sebagai insan individu  pribadi yang telah diperlengkapi Tuhan dengan pengetahuan yang cukup dengan kesadaran akan arti hidup ini, disertai tugas dan tanggung jawab  sebagai warga bangsa, saya terpanggil memberi diri melakukan sesuatu atau terlibat langsung dalam pembangunan bangsa ini untuk memberi kontribusi konkret dalam pemikiran, pengetahuan dan dalam pandangan-pandangan, strategi-stategi menuju Indonesia bersinar.

Apa yang menjadi Visi Misi  dalam bursa pencalonan anggota DPD 2014 ?
Visi Misi saya berhubungan keterpanggilan saya, untuk terlibat dan pembangunan bangsa dan Negara Indonesia. Visinya Panca Asa Mulia, 5 (lima)  harapan mulia yang Tuhan berikan. Pertama Indonesia bermoral, kedua Indonesia berkualitas,  ketiga Indonesia bersinar, yang keempat Indonesia damai, dan kelima, Indonesia  sejahtera. Saya boleh jabarkan Indonesia bermoral  ada 5 (lima) aspek, di dalam aspek hidup kehidupan bermasyarakat berbangsa  dan bernegara  dalam kebenaran, keadilan, perikemanusiaan,  kejujuran  dan  Indonesia berkualitas.  Indonesia berkualitas ini berhubungan dengan Indonesia bermoral, ketika Indonesia bermoral maka dia pasti berkualitas. Adapun, kualitas ini dibagi atas sikap dan perilaku positif,  ini sangat penting dan menentukan keberhasilan-kerhasilan lainnya. Sikap dan perilaku ini adalah dasar keberhasilan dan kesuksesan yang diraih  setiap individu, kelompok, organisasi bahkan keluarga. Dan seluruh warga masyarakat yang mau berhasil dalam hidupnya sebagai manusia mahkluk  individu, mahkluk sosial, mahkluk yang berKetuhanan Maha Esa, maka dia harus memiliki kualitas seperti ini. Yang pertama, sikap dan perilaku positif, yang kedua, dia harus cukup ilmu pengetahuan, yang ketiga, dia juga harus memiliki ketrampilan yaitu mengembangkan talenta-talentanya. Dan yang keempat, dia harus punya pengalaman yang cukup melaksanakan impian-impain dan harapan-harapannya mengisi pembangunan bangsa. Indonesia bersinar, ada kaitan juga ketika Indonesia bermoral akan berkualitas, dan kalau Indonesia berkualitas dia pasti menuju pada Indonesia bersinar, Indonesia bersinar itu singkatan dari bersih dan benar. Dan dia bisa  bersinar, jika   memiliki beberapa aspek, diantaranya,  ketekunan, kerajinan,  keteladanan, kesetiaan.  Jika dia memiliki aspek itu, kita akan menuju  Indonesia bersinar, dimana Indonesia akan damai, Indonesia damai itu saling menghormati dalam kehidupan yang berbeda latar belakang suku, ras dan golongan agama, dimana semua warga bangsa terlibat langsung dalam kesadaran menciptakan suasana aman,  tentram dan damai  dalam rangka memperkokoh pertahanan dan keamanaan nasional. Maka,  Sulut pun akan Damai, dan ketika Sulut damai, saling mendukung, saling menopang satu dengan yang lain dalam perbedaan, tidak ada diskiriminasi  dalam hal kehidupan berbagsa dan bernegara,  tetap meningkatkan semangat toleransi diantara sesama seperti yang terkandung pada Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Jika Indonesia damai maka Indonesia sejahtera, sejahtera berarti tidak kekurangan sandang pangan, papan, dan akal, serta sehat jasmani

Memilih maju sebagai Anggota DPD melalui pemilihan Provinsi Sulawesi Utara, Apa yang  dilihat  dari perkembangan Sulut sebagai Provinsi ?
Khusus untuk Propinsi Sulut, kita kenal sebagai wilayah yang relatif aman di bangsa kita Indonesia, dan juga kehidupan antar umat beragama terkenal rukun dan damai kehidupan masyarakatnya di dalam mengamalkan agamanya masing-masing. Tentunya sebelum kita melihat kekurangan kita melihat dulu kelebihannya, kelebihannya itu Sulawesi utara sangat kaya, sumber daya alam, sebenarnya sumber daya manusianya itu adalah orang-orang yang pandai, orang-orang yang pintar. Di Indonesia ini, kalau boleh dikatakan orang-orang pintar itu banyak sekali dari Sulawesi Utara, dan sangat kaya  keindahan sumber daya alamnya.  Ada pun  yang menjadi kekurangan terjadi sangat drastis ke merosotan moral, masyarakat Sulut sudah lahir dengan menjadi agama Kristen hanya branded kebanyakan. Saya tidak mengatakan semuanya,  tetapi banyak yang beragama Kristiani, tidak melaksanakan ajaran Kristus, tidak menjadi pelaku-pelaku firman yang benar,  sehingga dia hanya puas dengan merek agama.  Padahal, agama itu sebagai suatu  wadah yang membawa kita mengenal siapa Tuhan dan penunjuk jalan.  Jalan itu, yaitu Tuhan  sendiri, hidup  Tuhan itu Maha Kudus, Maha Benar, Maha Suci dan Maha Mulia. Jadi seluruh yang mengaku pengikut  Kristus harus hidup seperti Kristus hidup, tidak ada pilihan lain. Tidak ada berdiri di dua kaki dunia. Kalau mau masuk surga  hanya ada satu jalan,  hidup dalam kebenaran, kekudusan, baru berkat itu datang di menyempurnakan kehidupan manusia. Dan kemerosotan moral ini mengakibatkan banyak perceraian di Sulut, banyak perselingkuhan karena tidak setia, itu tadi tidak bersinar. Tidak bisa bersinar kalau hidupnya redup-redup, banyak melakukan sesuatu yang tidak terang. Dan tidak ada keterbukaan dalam keluarga, keteladanan itu harus didasari oleh kejujuran. Tidak mungkin ada suatu kebahagiaan yang didasari dengan ketidak jujuran atau kebohongan. Ini yang menjadi inti kemerosotan moral, dan saya melihat banyak sekali hubungan gelap, korban narkoba, minum-minuman keras, dan juga banyak kejahatan-kejahatan lain seperti pembunuhan. Ini semua diakibatkan  lemahnya atau tidak kokohnya  dasar ke imanan. Dan juga yang saya tekankan di situ adalah keteladanan kepemimpinan sangat rapuh, karena banyak pemimpin-pemimpin tidak tahu apa sebenarnya tugas seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah wakil Tuhan di muka bumi ini,  Tuhan itu Maha Kuasa, Maha Kudus, dan Maha Mulia. Jadi hidup para pemimpin pun mesti kudus dan mulia, mereka seharusnya hidup dan dapat diteladani. Dituntut banyak pengendalian diri, penguasan diri. Dan memang saat ini bangsa kita Indonesia sangat membutuhkan pemimpin yang arif dan bijaksana menjadi teladan bagi rakyatnya, krisis keteladanan, krisis moral, krisis indentitas diri.

Apa keinginan menjadi anggota DPD 2014 merupakan manifestasi  cita-cita sejak dulu atau muncul karena kegalauan melihat kondisi bangsa dan negara akhir-akhir ini?
Saya ini memang dari dulu punya cita-cita ingin menjadi orang yang berarti bagi nusa dan bangsa, kalau saya menulis buku di buku harian itu cita-cita saya, saya akan tulis ingin menjadi orang yang berarti bagi nusa dan bangsa, sekalipun saya belum tahu bagaimana caranya. Tetapi seiring waktu berjalan, dan seiring Tuhan menuntun langkah-langkah hidup saya. Sehingga saya juga mau selalu flashback setiap tawaran-tawaran dunia ini kepada saya, selalu saya bertanya apakah saya dengan melakukan ini, berarti bagi nusa dan bangsa, yang kedua menyenangkan hati Tuhan. Jika tidak, maka saya mundur. Saya lebih baik gagal, tidak maju, daripada tidak taat dan setia kepada Tuhan. Dan ketika berbuat sesuatu, saya lakukan bukan karena  reaktif tetapi pro aktif.   

Apa yang perlu dibenahi agar SULUT kedepan bisa kembali pulih?
Sekarang kan era globalisasi, dan sekarang ini sudah terbuka segalanya. Mengapa Sulut masih tertinggal dan pulau Jawa  lebih maju. Ya, karena masyarakat Sulut  tidak menjadi pelaku firman, tidak takut dan tunduk kepada firman,  masih banyak yang kurang melakukan itu. Bukan berarti semuanya, tetapi Tuhan masih merperhitungkan itu.  Setiap anak-anak Tuhan yang tidak taat dan setia kepada firman dan panggilan, tidak mungkin  maju.  Sehebat-hebatnya manusia, Tuhan bilang hikmat manusia, kepintaran manusia itu kebodohan di hadapan  Tuhan. Bahkan dikatakan dalam firman Tuhan, takut akan Firman Tuhan itu awal segala hikmat dan  ilmu pengetahuan, biar orang bodoh ndak pintar, sekolahnya ndak tinggi, kalau takut akan Tuhan jadi pintar, karena takut akan Tuhan membuat orang pintar dengan cara hadirat Tuhan. Kalau anak-anak Tuhan sebagai umat Kristiani di Sulut, mau maju bahkan dia bisa lebih maju,  cuma satu, mereka harus hidup seperti Tuhan inginkan. Bukannya hidup seperti apa yang diinginkan manusia. Karena penilaian Tuhan tidak sama dengan penilaian manusia. Standar hidup dalam kualitas Allah pasti  jelas di atas. Sebaliknya,  hidup dengan standar dunia sekalipun hebat tetap di bawah. (Fajar Gloria Sinuraya/fer)

0 komentar:

Posting Komentar