Shining Indonesia, Shining The World, Save The Future Generation

Minggu, 22 Maret 2015

Hidup Itu Anugerah

Hidup adalah suatu anugerah. Tak ada seorang pun bisa memilih terlahir sebagai apa dan dari mana dia berasal. Demikian pula tak ada seorang pun mampu menambah sehasta saja dari waktu kehidupannya tanpa perkenan Nya. Karena kehidupan ini sejatinya given. Pemberian terindah dari Sang pencipta. Hidup tentulah mesti diperjuangkan. Sekalipun begitu, kehidupan yang penuh dengan misteri ini pun memiliki hukum-hukumnya sendiri. Untung dan malang menjadi pernak-pernik hidup yang dijalani silih berganti, dimana  ukuran yang kita terapkan pada orang lain, kelak dipakaikan pula bagi diri kita sendiri. Untuk itulah, hidup mestilah diisi dengan rasa berbagi dan saling menghidupkan sesamanya. Hal itu sekaligus meneguhkan kita, setiap insan bukanlah hidup bagi dirinya sendiri, melainkan juga memikul beban tanggungjawab bagi masyarakat maupun tanah tumpah darahnya. Sekecil apapun kebaikan yang kita perbuat bisa bermakna besar bagi orang lain. “JADILAH BUNGA BAGI BANGSAMU, AGAR HARUMLAH NEGERIMU.”

Menjadi Berkat Untuk Sesama
Terlahir dari pasangan ayah Salvatore W Rumantir asal Kaskasen,    Tondano, Kabupaten Minahasa  dan ibu Elsri Tanzil yang besar di Makasar, kehidupanku berjalan mengalir seiring waktu.  Keluarga besarku, bukan  hanya membaur, tapi menyatu dalam nafas kehidupan sehari-hari masyarakat dan alam Minahasa  yang cerah, berbukit-bukit  dipenuhi pepohonan kelapa. Sebagaimana insan lainnya, keluarga tempat dibesarkan memberikan pengaruh yang mendalam bagi kehidupanku. Apalagi, bumi nyiur melambai dikenal memiliki akar budaya sangat kaya dan beragam. Keberagaman adalah suatu keniscayaan, sehingga masyarakat Sulawesi Utara pun dikenal sebagai masyarakat terbuka bagi masuknya nilai-nilai maupun tradisi baru yang dianggap mendorong menuju  kemajuan dan kebaikan.  Sekalipun begitu, masyarakat Sulawesi Utara sangat menghargai petuah bijak yang diwariskan  para leluhur turun temurun.  Salah satu yang dikenal luas  ungkapan “Si Tou Timou Tumou Tou”  dari Minahasa yang dalam terjemahan bebas, hidup mestilah menjadi berkat atau menghidupi sesamanya. Nilai-nilai itu banyak mempengaruhi masyarakat  yang  secara kultural menjadi salah satu pegangan dalam menjalani hidup sehari-hari masyarakat dan keluarga-keluarga yang hidup di sana.    

Ungkapan “Si Tou Timou Tumou Tou” dapat dipandang sebagai suatu cara pandang Tou (manusia) sebagai makhluk sosial budaya, menempatkan dirinya dalam kerangka kehidupan  bermasyarakat, berbangsa dan ber-negara. Prinsip hidup itu tidak saja mengandung  sikap luhur tentang sikap dan perilakunya itu, tetapi secara menyeluruh dan utuh menggambarkan jatidiri/identitas manusia dan masyarakat sebagai bagian integral manusia dan masyarakat Indonesia. Dalam berinteraksi dengan lingkungannya itu, Tou  membentuk ciri-ciri kebudayaannya dan sekaligus jati dirinya, melalui interaksi kemampuan nalar transedental sehingga mengembangkan pula ciri spiritualnya. Berdasarkan pemikiran mendasar ini maka prinsip hidup  “Si Tou Timou Tumuo Tou” dapat diterima masyarakat  bukan Minahasa tempatnya berasal, tapi masyarakat Sulawesi Utara umumnya sebagai pandangan hidup yang mampu mengarahkan kehidupannya berperan serta membangun kehidupan dan bertanah air yang berkualitas.

Menguraikan makna “Si Tou Timou Tumuo Tou” dalam pelbagai ungkapan aktual kehidupan sehari-hari di pelbagai segi/sektor dan subsektor kehidupan manusia Minahasa, pertama-tama harus dikemukakan si Tou (manusia) adalah manusia Minahasa baik keturunan asli orang Minahasa maupun orang Minahasa berdarah campuran etnis lain dan juga pendatang yang tinggal dan menetap di tanah Toar Lumimuut dalam perspektif  yang sama membangun tanah Minahasa. Timou (tumbuh dan berkembang) manusia Minahasa bukan manusia yang statis dan tidak berkembang tetapi Tou Minahasa orang yang mau tumbuh dan berkembang. Secara umum dapat dikatakan, manusia Minahasa adalah manusia yang setara dan egaliter, termasuk kesetaraan gender dimana perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dan tidak menganut paham Patriarki. Hal ini bisa dibuktikan dimana perempuan  bisa menjadi pemimpin,  seperti juga diterapkan di salah satu sub etnis di Minahasa, yaitu Tountembouan sebagian besar Walian (pemimpin upacara adat) adalah perempuan.  Dengan berpegang pada prinsip-prinsip hidup seperti itu manusia Minahasa tumbuh dan berkembang.

Begitulah, mewarisi nilai-nilai adalah keniscayaan bagi seorang anak. Apalagi, mereka yang hidup dalam tradisi kekerabatan dan budaya mapalus atau gotong royong. Sekalipun, aku terlahir dan menghabiskan masa remaja di Makasar,  kota yang terpaut ribuan mil dari tanah Minahasa, tapi falsafah “Si Tou Tomou Tou” bukanlah sesuatu yang asing. Karena ini menjadi bagian dari nilai-nilai keluarga besarku. Bagiku pribadi, hidup adalah sebuah anugerah.  Kita tak bisa memilih kehidupan ini,  karena kehidupan adalah pemberian indah yang mesti dijalani dengan penuh rasa syukur dan tanggungjawab. Kebajikan-kebajikan yang diturunkan dari nilai-nilai yang baik kelak menjadi modal merajut kehidupan selanjutnya. Dalam perjalanan waktu, akupun mensyukuri, jika bisa menjadi saluran berkat, berbagi untuk kehidupan sesama, entah itu dalam bentuk menginspirasi, menghibur, mendoakan  atau melakukan hal-hal  kongkrit yang bisa dilakukan, sehingga bisa menjadikan banyak orang bisa menjadi mandiri dan bermanfaat bagi kehidupan ini.  Membangun kelayakan melalui doa, amal dan menolong sesama. (Maya Rumantir/dikutip dari buku Menghitung Hari, Mengejar Kualitas Kehidupan)

0 komentar:

Posting Komentar