Shining Indonesia, Shining The World, Save The Future Generation

Selasa, 28 Juli 2015

Kesetaraan Gender Sudah Berlangsung Berabad-abad di Sulut

Pilkada yang akan dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia pada 9 Desember 2015 mendatang, menyedot banyak perhatian masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Apalagi, mereka yang akan berlaga bukan hanya para kandidat pria, tapi beberapa diantaranya adalah wanita.
~~~~
Di Bumi Nyiur Melambai, misalnya, berbagai nama beredar dalam bursa calon Gubernur Sulut. Mereka beasal dari bermacam profesi seperti  politisi, birokrat, pengusaha maupun aktivis sosial. Nama-nama mentereng diantaranya, Olly Dondokambey, Elly Lasut, Drs. Hanny Sondakh, Benny mamoto dan Maya Rumantir. Bagaimana sebenarnya perspektif gender terutama profil pimpinan wanita dalam masyarakat kita?


Secara nasional terdapat  sekitar 18 pemimpin perempuan, baik gubernur, wakil gubernur, bupati dan wali kota. Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla pun menempatkan posisi strategis perempuan di beberapa kementerian.

Bagi masyarakat Sulut kesetaraan gender sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Secara umum dapat dikatakan, manusia Minahasa adalah manusia yang setara dan egaliter, termasuk kesetaraan gender dimana perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dan tidak menganut paham Patriarki. Hal ini bisa dibuktikan dimana perempuan bisa menjadi pemimpin, seperti juga diterapkan di salah satu sub etnis di Minahasa, yaitu, Tountembouan sebagian besar Walian (pemimpin upacara adat) adalah perempuan. Dengan berpegang pada prinsip-prinsip setara dan egaliter itu, manusia Minahasa tumbuh dan berkembang. 
Demikian juga dalam prinsip demokrasi modern, masalah gender bukanlah persoalan yang meski diperdebatkan. Richard Supit (25 th) mahasiswa di salah satu PT Sulut, mengungkapkan,  siapa pun yang memimpin Sulut, tidak menjadi masalah, apakah  dia perempaun atau laki-laki, yang penting berdedikasi, integritas, dan memiliki kecakapan dan keseriusan membangun Sulut.

Hal sama dikemukakan Maya Rumantir  yang  juga Senator,  masyarakat Sulut sudah cerdas, mereka dapat memilih mana terbaik. Sehingga persoalan gender bukan lagi masalah. Terpenting gubernur mendatang harus memiliki respek terhadap persoalan rakyat, dan fokus bekerja  menjadi pelayan rakyat. “Yang terpenting bagi saya, kedamaian, kerukunan dan persatuan masyarakat Sulut bisa terus terjaga dan pembangunan benar-benar bisa  direalisasikan merata di bumi Nyiur Melambai demi kesejahteraan bersama,” pungkasnya. (Fajar Gloria Sinuraya/fer)

0 komentar:

Posting Komentar