Shining Indonesia, Shining The World, Save The Future Generation

Kamis, 24 September 2015

Petani Harus Maju

Masa kampanye Pilkada mulai menghangatkan tensi politik di Sulut. Alih-alih ikut-ikutan membuat pertemuan akbar, pasangan kandidat Maya Rumantir-Jenderal Glenny Kairupan mencoba menghadirkan gaya lain melalui komunikasi politik langsung ke akar rumput masyarakat. Sebagaimana tergambar dari pertemuan dialogis antara kandidat gubernur Maya Rumantir dengan para petani kelapa, Jumat (11/9) lalu,  di perkebunan kelapa pinggir jalan Trans Sulawesi.
Sontak kehadiran Maya Rumantir pun  disambut antusias para kelompok masyarakat tani setempat. Apalagi, masyarakat mengaku rindu untuk bisa berdialog langsung dengan para pemimpinnya sekedar menyampaikan aspirasi ataupun segala unek-unek yang ada di benaknya. Sehingga, tua muda masyarakat pun menyemut berkumpul mendengarkan apa yang disampaikan oleh Maya Rumantir.


Roby Lintong, Ketua Kelompok Tani Kelapa “Sejahtera” Desa Tenga mengungkapkan,  apa yang dibutuhkan petani adalah kepastian harga komoditas pertanian serta infrakstruktur jalan-jalan perkebunan. “Petani harus dilindungi oleh pemerintah dengan tidak berkompromi dengan pedagang-pedagang besar yang seenaknya mempermainkan harga,”serunya.  Dia pun dengan lantang mengemukakan,  petani sepakat untuk tak sekedar mendukung Maya Rumantir sebagai Gubernur Sulawesi Utara tetapi lebih dari itu memenangkannya. “Kalau bukan sekarang kapan lagi Sulut berubah! Kami sepakat, perubahan itu harus dimulai dari moral para pejabat. Kalau moral pejabat so lurus tentu tidak ada lagi kompromi dengan para pedagang komoditas,” imbuhnya disambut tepuk tangan para kelompok petani.
Menanggapi ini, Maya Rumantir, mengungkapkan, dirinya tak mau mengobral janji, tapi mempersilahkan masyarakat terlibat langsung memberi masukan sehingga kebijakan yang ditempuh Pemerintah Daerah dirasakan berpihak pada petani.  “Saya tidak menjalankan politik janji. Jadi saya tak mau jual janji-janji misalnya kalau saya jadi Gubernur harga kopra menjadi Rp. 20.000,- per kilo misalnya. Saya tak mau seperti itu. Yang akan saya lakukan solusi cerdas dan tidak membodohi masyarakat khususnya petani. Misalnya soal harga kelapa, yang saya lakukan mari duduk bersama-sama semua pihak yang terkait dengan produk kelapa, lantas mencari solusi bagaimana nilai tambah buah kelapa. Pemerintah Daerah nanti akan memposisikan diri sebagai pendamping aktif membuat regulasi mensejahterakan petani agar derajat kehidupannya terangkat,” terangnya.
Apalagi, Maya menambahkan, tidak sedikit masyarakat Sulut  menggantungkan  pada komoditi pertanian dan perkebunan. Karena itu, kebijakan yang dibuat bukan hanya menyentuh bagaimana meningkatkan produksi, tapi harus menjamin pula terkait pemasaran komiditi tersebut. “Kita akan sinergikan segala daya dan dana, baik itu dari pusat maupun daerah sehingga kebijakan yang ditempuh benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para petani, bukan tengkulak. Kita juga bertahap menghidupkan pasar-pasar sampai di tingkat kecamatan sehingga nanti perekonomian riil  berputar sampai ke pelosok,” pungkasnya. (Fajar Gloria Sinuraya/fer)

0 komentar:

Posting Komentar