Shining Indonesia, Shining The World, Save The Future Generation

Sabtu, 28 November 2015

Tidak Boleh Ada Pasar Tradisionil Tutup di Sulut



Potret  dan gambaran situasi pasar yang kotor dan semrawut mesti segera dirubah. Karena, mau tidak mau, pasar sebagai tempat berkumpulnya pembeli dan penjual  mesti berbenah mengikuti perkembangan. Jika pasar tradisionil tidak mau memperbaiki manajemen, terutama terkait soal kebersihan dan kenyamanan, lama kelamaan akan kehilangan daya tarik yang menimbulkan kerugian bagi masyarakat sendiri. 

“Karena itu, pasar-pasar tradisionil di Sulut mesti memperbaiki tata kelola manajemennya lebih aman, rapi dan nyaman bagi konsumen. Namun, pasar tradisionil tak boleh kehilangan roh ekonomi kerakyatan. Dengan alasan apapun, tidak boleh  ada pasar tradisionil yang ditutup di Sulut,” kata kandidat Gubernur Sulut Maya Rumantir.  




Dalam kunjungannya ke sejumlah pasar tradisional, Maya pun mengaku prihatin dengan kondisi  Pasar Pinasungkulan yang berlokasi di Karombasan Manado. Pasalnya, di pasar itu, sarana dan prasarana pasar masih begitu minim. 

Menurut Maya, sejalan dengan penguatan ekonomi kerakyatan yang menjadi salah satu fokus program pasangan Gubernur/Wagub, Maya-Glenny Kairupan, pemberdayaan pasar tradisional akan menjadi salah satu prioritas. 

“Tidak boleh ada pasar tradisionil yang tutup dengan alasan apapun. Kita perlu menata kembali  pasar tradisional  dengan baik, supaya masyarakat nyaman berbelanja. Revitalisasi itu sangat penting, agar kondisi pasar dapat lebih baik dan layak, sehingga ibu-ibu yang berbelanja dapat betah berlama-lama di pasar dan kesan pasar yang selama ini ber bau, kotor, dan semrawut berubah menjadi lebih bersih, rapi, dan teratur,” terangnya.

Dijelaskannya, perbaikan itu harus diikuti pengelolaan dan tersedianya  sarana pendukung, meliputi  akses masuk ke pasar  dan  tempat pembuangan sampah serta   kios-kios yang repsentatif.  “Dengan begitu pasar rakyat menjadi lebih layak, dapat meningkatkan pembeli yang datang dan  menumbuhkan kegiatan ekonomi yang membawa kesejahteraan bagi  pedagang, pembeli dan  mereka yang terlibat di dalamnya,”  imbuhnya.
 
Sementara itu, Cawagub Glenny Kairupan mengungkapkan,  proteksi terhadap pasar tradisional itu penting dilakukan, agar mampu bersaing di tengah gempuran pasar modern seperti hipermarket atau mall-mall yang begitu agresif. Dia juga mengingatkan perlunya  pengkajian kembali pendirian pasar-pasar modern. Sehingga dengan pengaturan tersebut tidak melenyapkan eksistensi dari keberadaan pasar tradisional sebagai urat nadi perekonomian rakyat yang tidak pernah diterpa krisis. “Dengan pengolahan pasar lebih baik,  pasar tradisonal tidak akan kehilangan peminatnya, dan masyarakat kan selalu datang ke pasar,” pungkasnya. (Fajar Gloria Sinuraya/fer)

0 komentar:

Posting Komentar