Shining Indonesia, Shining The World, Save The Future Generation

Selasa, 04 Desember 2018

Masyarakat Sulut Optimis Maya Rumantir Kembali Jadi Senator Periode 2019-2024


Ini untuk pertama kalinya di Indonesia. Pada tanggal 17 April 2019  seluruh rakyat Indonesia akan menyelenggarakan pesta demokrasi serentak dalam pemilihan presiden dan pemilihan para anggota legislatif.

Hal ini berbeda dengan pesta demokrasi sebelumnya. Di tahun 2014 lalu, dilakukan dua Pemilihan Umum (Pemilu), yaitu pemilihan legislatif (9 April 2014) untuk memilih 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pusat dan 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan para anggota DPRD Provinsi dan DPRD kota/kabupaten.

Selanjutnya  para anggota DPR terpilih hasil pemilu itu mengajukan calon presiden dan wakil presiden yang bertarung dalam pemilihan presiden tiga bulan kemudian, pada 9 Juli 2014.

Untuk Pemilihan Umum Legislatif 2019, rakyat Indonesia akan memilih wakil-wakilnya yang terdiri dari 575 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 136 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 2019–2024.

Pemilu 2019 menjadi pesta demokrasi yang meriah sebab Pemilu Legislatif akan dilaksanakan bersamaan dengan Pemilihan umum Presiden Indonesia 2019.

Di ajang pesta demokrasi akbar ini, Dr. Maya Rumantir Hutasoit, Phd, salah seorang putri Sulawesi Utara yang namanya sudah sangat dikenal di seluruh Indonesia, terutama di Sulawesi Utara akan ikut bertarung. Dr. Maya Rumantir Hutasoit, Phd kembali berjuang untuk mendapatkan kursi sebagai Senator di Senayan Periode 2019-2024.

Saat ini, suara dari berbagai kalangan elemen masyarakat di Sulut menyebut bahwa Dr. Maya Rumantir Hutasoit, Phd adalah tokoh panutan dan sangat dicintai warga Sulut. Melihat kenyataan ini maka masyarakat Sulut menganggap Maya Rumantir  sangat pantas memperoleh dukungan suara yang besar dari segenap masyarakat di Sulawesi Utara, seperti yang pernah diraihnya pada pemilihan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) tahun 2014.

Saat itu Maya Rumantir berhasil mendapatkan 206.946 suara masyarakat Sulut. Artinya Maya memperoleh suara terbanyak.

Kemudian disusul Aryanti Baramuli Putri (150.181 suara). Aryanti sendiri waktu itu merupakan anggota DPD petahana. Sedangkan Fabian Sarundajang (anak mantan Gubernur Sulut Sinyo Harry Sarundajang) hanya mampu mengumpulkan 127.508 suara. Kemudian ada nama Benny Ramdhani dengan perolehan 94.646 suara.

Sama seperti periode sebelumnya, kursi senator anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI utusan Sulut hanya tersedia 4 kursi senator.

Terkait perebutan 4 kursi ini, Maya Rumantir akan bersaing dengan 23 kandidat calon senator lainnya di Sulawesi Utara. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah merilis 23 nama calon Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI atau senator. Daftar Calon tetap (DCT) DPD RI ini ditetapkan KPU RI. Mereka dinyatakan lolos sebab telah memenuhi syarat calon dan syarat dukungan minimal 2000 KTP.

Untuk bersaing menjadi senator atau anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI utusan Sulut, Maya hanya menghadapi satu petahana yaitu Senator Stefanus BAN Liow. Stefanus dilantik 29 September 2015 menjadi anggota DPD RI Sulawesi Utara PAW (Pengganti Antar Waktu) menggantikan Senator Maya Rumantir yang mencalonkan diri menjadi calon Wakil Gubernur Sulawesi Utara.

Kemana 3 petahana lainnya?  Petahana Fabian Sarundajang, Benny Rhamdani, dan Marhany Pua rupanya absen dari persaingan.

Fabian diketahui sempat mendaftar di DPD.  Namun setelah berkasnya masuk di KPU, akhirnya putera mantan Gubernur Sulut SH Sarundajang tereliminasi. Sedangkan Senator Benny Rhamdani, setelah masuk struktur Partai Hanura ia menentukan haluan politiknya sebagai anggota DPR RI. Marhany Pua kini telah masuk ke dalam struktur DPD I Partai Golkar Sulut di bawah kepemimpinan Christina Eugenia Paruntu.

Aryanti Baramuli yang sudah 3 kali berturut-turut melenggang sebagai Senator di Senayan lebih memilih beristirahat dari kancah perebutan kursi di Senayan. Beberapa waktu lalu, ia memilih mundur dari senator, sebagai syarat maju di Pilkada Kota Bitung yang berakhir pada kekalahan.

Menanggapi prediksi masyarakat  yang optimis bahwa Maya Rumantir akan kembali memperoleh suara terbanyak di pertarungan perebutan kursi Senator Dapil Sulut, Maya menjawab bahwa semua itu akan menjadi kenyataan apabila memang seluruh warga Sulut menghendakinya.

“Saya bersyukur karena terus mendapat dukungan semangat dan doa dari masyarakat Sulut sehubungan dengan pencalonan saya sebagai Senator. Dukungannya memang luar biasa, saya berterimakasih kepada masyarakat Sulut. Saya sungguh terharu. Adapun hasil suara yang nanti akan saya peroleh di bilik suara tanggal 17 April 2019, saya serahkan pada warga Sulut. Apabila masyarakat menghendaki dan mempercayakan saya menjadi Senator, saya akan menjalankan amanah dan kepercayaan warga Sulut dengan penuh tanggung jawab. Intinya, saya serahkan semuanya kepada kehendak Tuhan dan pada hati nurani warga Sulut untuk memilih pemimpin yang baik,” ungkap Maya Rumantir.  

Sebenarnya apa motivasi Maya Rumantir Hutasoit untuk kembali lagi berjuang menjadi senator?

"Apabila saya bisa berkarya sebagai Senator, saya ingin membawa Sulawesi Utara ke arah perubahan yang lebih baik lagi. Saya ingin menjadikan Sulut bermoral, berkualitas, bersinar (bersih dan benar), damai, serta sejahtera. Saya yakin, visi ini sejalan dengan firman Tuhan dan direstui Tuhan, juga didukung penuh warga Sulawsi Utara,” ungkap Maya Rumantir.

Untuk kedua kalinya Maya Rumantir Hutasoit mengikuti pencalonan anggota DPD RI utusan Sulawesi Utara Periode 2019-2024.

Jauh-jauh hari sebelum dibukanya Pendaftaran Calon Anggota DPD RI, tidak terlintas sedikit pun di hati dan pikiran Maya Rumantir untuk maju lagi sebagai Senator. Wanita cantik berlesung pipit ini masih sibuk dengan aktivitas rutin seperti biasanya di bidang pelayanan gereja, dosen,  pegiat kegiatan sosial; serta mengurus suaminya tercinta Ir. Takala Gerald Manumpak Hutasoit dan putri kesayangannya Kristamya Kiara Oliveralda Tiurnauli Hutasoit.

Hatinya juga sedang berbunga-bunga untuk mempersiapkan konser persaudaraan berkeliling Indonesia.

Namun, di minggu-minggu terakhir sebelum jadwal Pendaftaran Calon Senator, Maya mendapatkan begitu banyak permintaan dari berbagai elemen masyarakat agar Maya mau kembali mengabdikan hidupnya untuk melayani masyarakat Sulut sebagai Senator di Senayan. Dari hari-ke hari permintaan agar Maya bersedia menjadi anggota DPD RI utusan Sulawesi Utara Periode 2019-2024 semakin deras tak terbendung.


Wanita asli Sulut, kelahiran Ujung Pandang 2 April 1964 ini pun mencoba merenunginya dan membawanya dalam setiap doanya. Maya mohon terang dan petunjuk Tuhan. Maya bertanya kepada Tuhan apakah permintaan dari berbagai elemen masyakat yang datang kepadanya itu merupakan kehendak dari Tuhan Yang Maha Kuasa atau bukan. Maya memang tipe wanita yang tidak pernah memulai sesuatu jika tak mendapat ijin atau dorongan Tuhan.

Setelah melalui pergumulan panjang dalam doa, suatu hari, Maya Rumatir Hutasoit menyampaikan kepada suaminya Ir. Takala Gerald Manumpak Hutasoit perihal permintaan warga Sulut agar dirinya kembali mencalonkan diri sebagai Senator. Suaminya mengijinkan apabila hati Maya sudah mantap untuk kembali melayani masyarakat Sulawesi Utara.

Maya Rumantir bersyukur, sebab di dalam setiap langkah hidupnya, dirinya selalu dikuatkan dan dikelilingi oleh orang-orang yang percaya bahwa Sulawesi Utara akan bersinar jika dipimpin oleh pemimpin yang takut akan Tuhan dan mengandalkan hidupnya hanya kepada kuasa dan pertolongan Tuhan.


Puji Tuhan. Ternyata Tuhan telah menjawab semua doa-doanya. Kini nama Maya Rumantir Hutasoit telah resmi tercantum dalam daftar Senator Dapil Sulut, Maya resmi mengantongi no 32.  (Reth)

Sabtu, 10 Februari 2018

Pelantikan DPD Vox Point Indonesia se-Sulut, Solusi Straregis Kaderisasi Generasi Bangsa


Uskup Keuskupan Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC, berkenan memimpin Misa Ekaristi sebelum acara pelantikan pengurus Vox Point DPD Sulawesi Utara, Sabtu, 10 Februari 2018. Pada kesempatan ini dilantik total sekitar 70 Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Sulawesi Utara dan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Vox Point Indonesia se-Sulawesi Utara.

Dilantik sekitar 42 orang pengurus propinsi serta  DPW sekitar 6 orang (Minahasa Utara, Manado, Tomohon, Talaut, Bitung, DPD Sulut yang lain DPW). Menurut Dr Maya Rumantir Hutasoit MA Ph.D selaku Korwil Vox Point Sulawesi Utara, jumlah ini akan terus berkembang lagi. Acara pelantikan berlangsung di Resto Pondok Bambu.

Pelantikan DPD Vox Point Indonesia Sulawesi Utara merupakan solusi straregis dalam upaya mengkaderisasi  generasi  muda Sulut untuk ikut serta berperan aktif secara nyata membangun dan mengharumkan Sulut berlandaskan konstitusi Pancasila dan UUD 1945.

Sehari sebelum pelantikan, para pengurus Dewan Pimpinan Nasional Vox Point Indonesia yang terdiri dari Ketua Umum VPI Yohanes Handojo Budhisedjati, Maya Rumantir (Wakil Ketua Umum), FX Budhi Hendarto (Dewan Penasehat), B Woeryono (Direktorat Pengkajian Strategis), Yakobus Bouk (Bendahara Umum) berkesempatan melakukan kunjungan kepada Kapolda Sulut Irjen Pol. Drs Bambang Waskito dan Uskup Keuskupan Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC.

Saat kunjungan tersebut Maya Rumantir selaku Wakil Ketua Umum VPI menjelaskan kepada Kapolda Sulut bahwa Vox Point Indonesia merupakan sebuah wadah untuk berhimpun yang terbuka bagi organisasi Katolik apapun, karena tujuannya untuk mempersiapkan semua kader baik itu di PMKRI, ISKA, WKRI, Pemuda katolik, dsb ini. 

Jadi  menurut Maya, VPI  jangan dianggap saingan dari organisasi manapun. VPI ingin merangkul berbagai organisasi Katolik maupun awam untuk ikut membina serta melakukan pembekalan.  VPI siap memotivasi semangat dari organisasi-organisasi tersebut tanpa perlu selalu menunggu sponsor. 

“VPI akan menumbuhkan kesadaran pada organiasasi yang sudah ada itu untuk berkorban tanpa pamrih. Sebab kalau semua kegiatan selalu menunggu sponsor-sponsor itu kurang baik, bukan mana doa, tapi mana doi. Nanti dipikirannya mana doi  (duit) terus.  Kita berusaha untuk merubah presepsi lama ini. Kita ingin Sulut ini lebih bersinar untuk dapat membantu menyinari Indonesia lebih bersinar,” jelas Maya.

Perhimpunan Vox Point Indonesia  (VPI) resmi dideklarasikan di Jakarta tanggal 12 Maret 2018. VPI dimaksudkan sebagai sebuah wadah bagi aktivis Katolik, tokoh Katolik, pegiat sosial-politik,  kemasyarakatan, serta awam Katolik,  yang terpanggil dalam kegiatan sosial, politik, dan kemasyarakatan.

Mgr Rolly menyambut baik kehadiran VPI saat menerima kunjungan Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Vox Point Indonesia Jumat 9 Feb 2018. Uskup berharap semoga Vox Point Indonesia dapat memperkaya wajah Gereja Katolik di Keuskupan Manado. 

“Kita berharap perhimpunan ini konsisten mengangkat nilai-nilai kebangsaan dan mengkaderisasi umat,” pesan Mgr Rolly di Keuskupan Manado Sulawesi Utara kemarin.

Sebagai Ketua DPD Vox Point Indonesia Sulawesi Utara  antara lain Dr Ir Charles R Ngangi, MS dan Sekretaris Harold Pratasik. 

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum VPI Yohanes Handojo Budhisedjati mengatakan bahwa kehadiran Vox Point Indonesia di tanah air disambut baik oleh generasi muda Katolik serta semua pihak demi menjaga keutuhan NKRI serta membangun Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Ini terbukti dengan terbentuknya 11 DPD dalam kurun waktu hanya dua tahun. Dalam waktu dekat segera menyusul pembentukan dan pelantikan pengurus DPD Bali dan Kalimantan. (re)

Minggu, 10 Desember 2017

Bersama GDD Maya Rumantir Siap Dampingi Pemberdayaan Perempuan Desa


Sebanyak 17 tokoh nasional maupun tokoh masyarakat pada tanggal 9 Desember 2017 menginisiasi pembentukan Gerakan Daulat Desa (GDD). Tujuh belas tokoh yang sekaligus merupakan deklarator GDD tersebut antara lain KH Solahuddin Wahid, Buya Syafii Maarif, Sabar Mangadu Tambunan, Abdon Nababan, Maya Rumantir, Sihar Sitorus, Jimly Assiddiq, Brigjen Pol Viktor E Simanjuntak, dan tokoh lainnya. GDD dideklarasikan di Markas Gerakan Daulat Desa, Jalan Pancoran Timur VIII No 6 Jakarta Selatan.


Pada acara deklarasi tersebut, ke-17 inisiator GDD berhasil mengajak hampir 200 masyarakat nusantara lainnya untuk menjadi deklarator daerah mewakili 300-an suku nusantara dan 75.000 desa. 

Gerakan Daulat Desa dimaksudkan sebagai sebuah gagasan baru yaitu solusi strategis membangun peradaban rakyat, bangsa, dan negara Indonesia sejalan dengan Pancasila dan amanah UUD 1945.

Acara deklarator GDD dihadiri berbagai lapisan golongan masyarakat nusantara (Nias, Toraja, Jawa Tengah, Tanah Batak, wilayah adat lainnya) yang mencerminkan kekayaan dan keragaman Indonesia dalam wadah Bhineka Tunggal Ika. Mereka bersatu dengan berbekal semangat kebersamaan serta gotong royong demi mewujudkan desa yang berdaulat sehingga desa bukan lagi merupakan obyek tetapi akan terus berperan aktif sebagai subjek penentu atau barometer keberhasilan pembangunan masyarakat Indonesia.

Lahirnya GDD terkesan bahwa selama ini desa tidak berdaulat. Apakah benar desa telah lama menjadi wilayah yang tidak berdaulat dan terkesan sulit menentukan nasibnya sendiri?  Menurut tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Solahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Soleh, selama ini desa kurang diberi peran, desa seolah pasrah saja menjadi objek oknum penguasa maupun pengusaha. Ini tidak boleh terus dibiarkan terjadi. Mulai saat ini GDD akan berkomitmen mengawal pelaksanaan UU Desa No 6 Tahun 2014 agar terlihat nyata peran desa sebagai subjek. 

“Desa memiliki peluang menentukan nasibnya sendiri. Peluang yang ada itu tidak datang dengan sendirinya tetapi harus dikejar. Saya ingin pembangunan desa, bukan pembangunan di desa. Pembangunan desa tidak boleh menimbulkan dampak kerusakan lingkungan,“ ungkap Gus Soleh.

Senada dengan Gus Soleh, Maya Rumantir menyebutkan bahwa UU Desa No 6 Tahun 2014 sudah cukup bagus sebab telah memberi peluang desa sebagai subjek pembangunan. Terlebih dalam UU Desa tersebut juga cukup mengakomodir penguatan peran pemberdayaan perempuan.

"Pemberdayaan perempuan sangat penting sebab erat kaitannya dengan tanggung jawab meningkatkan kualitas generasi muda penentu masa depan bangsa Indonesia," pungkas Maya.  (re)

Rabu, 06 Januari 2016

Pendidikan Politik Tidak Boleh Berhenti

Tak terasa, Pilkada telah usai, meskipun masih banyak catatan yang terjadi terkait buruknya sistem penyelenggaraan Pemilu yang masih banyak diwarnai politik uang, politisasi birokrasi dan kecurangan Pilkada dimana-mana.
Hal yang sama terjadi di Bumi Nyiur Melambai, meski dari hasil Rekapitulasi KPUD Sulut, dapat dipastikan Olly Dodokembey meraih suara sekitar 51,47%, mampu mengungguli  dua Cagub lainnya, yaitu Benny Mamato dan  Maya Rumantir.  Namun, tak dapat dipungkiri, berbagai masalah buruk terjadi dalam perhelatan akbar demokrasi di Sulut kali ini.
“Pilkada ini sangat  jauh dari ideal, pelanggaran terjadi secara sistematis dan masif, dimana beberapa Bupati diarahkan memilih calon tertentu, atau jika tidak bakal diancam dipecat dari jabatannya. Demikian juga dengan penggunaan APBD, dan PNS yang sudah  diarahkan,” kata Maya Rumantir.
Maya Rumantir Hutasoit
Yang paling menyesakkan, money politik begitu kentara, meski disamarkan dengan cara memberi  sumbangan bahkan sampai ke gereja-gereja dan mesjid untuk mempengaruhi pemilih.  
“Belum lagi serangan fajar menjelang hari H, dengan cara membagi amplop diisi uang, dan sembako. Surat suara dicetak palsu, banyaknya terjadi pelangaran Pemilu, dan berbagai kecurangan-kecurangan lainnya, sampai banyak konstituen tidak diundang untuk memilih, jelas ini tamparan bagi demokrasi kita,” imbuhnya.
Maya mengaku tak mempermasalah siapa yang jadi pemenang, tapi mengingatkan pendidikan politik bagi masyarakat mesti terus dilakukan sehingga kelak pemimpin terpilih benar-benar melalui Pilkada yang demokratis.  “Saya tidak mempersoalkan hasilnya, tetapi kecurangan ini sangat jelas. Kita harus memberi pendidikan politik yang bagi masyarakat. Kita kuatir jika sudah awalnya tidak benar, kedepannya  tidak benar pula,”jelasnya.
Di sisi lain, Maya pun mengucapkan terima kasih pada masyarakat Sulut yang telah memberikan suara bagi dirinya. Apapun itu, merupakan bagian dari demokrasi di Sulut yang mesti dihargai oleh semua pihak, termasuk mereka yang mendukungnya tapi tidak memperoleh surat panggilan memilih. “Mari kita isi dan  berkontribusi bagi pembangunan Sulut kedepan, senantiasa kita jaga kerukunan dan kedamaian di bumi nyiur melambai ini,” ajaknya.

Minggu, 06 Desember 2015

Didukung Kaum Ibu, Sulut Menantikan Pemimpin Perempuan

Jelas isu gender sudah tidak relevan lagi di tengah laju demokrasi sekarang ini. Karena banyak pula telah bermunculan para srikandi yang menjadi kepala daerah baik di tingkat provinsi, kabupaten, kotamadya, bahkan Indonesia pernah memiliki presiden perempuan, Megawati Soekarnoputri. Dimana semua itu, bermuara pada kemampuan, leadership, kepercayaan masyarakat dan integritas pribadinya.
Karena itu, sekalipun  dalam Pilkada serentak 2015 partisipasi perempuan mencalonkan dan dicalonkan dapat dikatakan minim, dimana berdasarkan perhitungan Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), dari 1.584 peserta yang memenuhi syarat, hanya 116 atau 7,32 persen perempuan yang tersebar di 90 daerah dari 262 daerah kabupaten, kota, dan provinsi. Namun, soal itu tak mengurangi optimisme, dalam Pilkada kali ini pun akan tampil para pemimpin perempuan membina wilayahnya masing-masing.
Sulut sendiri adalah salah satu daerah yang mengusung kandidat gubernur perempuan dalam perhelatan akbar demokrasi. Ini memang bukan sesuatu yang suprise, karena bumi Nyiur Melambai dikenal sebagai wilayah egaliter dan demokratis, sehingga masalah kesetaraan jender sudah tidak dipermasalahkan. Simak saja, dimana majunya Maya Rumantir sebagai kandidat Gubernur Sulut pun memperoleh dukungan antusias dari masyarakat. Apalagi berbicara di kalangan kaum ibu yang berdomisili di banyak tempat di Sulawesi Utara.
Yurike Lasut (26 th) karyawati di Manado, mengungkapkan,  sebagai wanita, dirinya gembira  dengan majunya Maya Rumantir. Demikian pula  sekalipun Pemilu masih beberapa hari lagi, Yurike menegaskan, dirinya sudah mantap memilih no urut 2, pasangan Maya Rumantir dan Mayjen TNI (Purn) Glenny Kairupan. “Supaya  ada suasana baru dalam pemerintahan dan lebih memperhatikan kepentingan kaum perempuan,” tandasnya.
Sementara itu,  Maya Rumantir memuji sikap masyarakat Sulut yang kritis dan cerdas dalam berpolitik. Masyarakat Sulut sudah sejak lama melek  politik, mereka pasti dapat menentukan pilihan terbaiknya, bukan karena ada yang memberi iming-iming atau  mempersoalkan masalah gender, tetapi lebih kepada apakah pemimpin itu mampu membawa  kemajuan bagi daerahnya,” ungkapnya.

Kamis, 03 Desember 2015

Di Kampung Ibu, Prabowo Ingatkan Pilih Putra-putri Terbaik, Maya-Glenny

Kehadiran Ketua Dewan Pembina Partai Gerinda, Prabowo Subianto dalam rangkaian kampanye akbar yang berlangsung di lapangan Langowan, Minahasa, membangkitkan energi tersendiri bagi pasangan gubernur/cawagub Maya Rumantir dan Glenny Kairupan. Sebagai Jurkamnas, Prabowo yang masih berdarah Minahasa dari garis ibu, membakar semangat ribuan masyarakat yang begitu antusias menyambutnya.

Dalam pidato politiknya, Prabowo mengimbau masyarakat Sulut menyatukan tekad memenangkan pasangan Maya Rumantir-Mayjen TNI (Purn) Glenny Kairupan demi kehidupan bumi nyiur melambai yang lebih baik lagi di masa mendatang. 

Hari Ibu, Mengenang Pahlawan Nasional Maria Walanda Maramis

Bumi Nyiur Melambai, Sulawesi Utara, tak bisa dilepaskan dari peristiwa-peristiwa heroik yang mewarnai Indonesia. Apalagi, diantara ribuan putra dan putri asal Sulut yang telah mengharumkan nama  Sulut dan Indonesia sejak perang kemerdekaan yang kuburannya bertebaran di banyak daerah di Indonesia, terdapat 9 figur yang dinobatkan menjadi pahlawan nasional. Mereka adalah Robert Wolter Minginsidi, Gerald Saul Samuel Johanes (GSSJ) Ratulangi, Arie Fredik Lasut, Jahaya Daniel Dharma, Pierre Tendean, Frans Mendur, Alex Mendur, Maria Walanda Maramis dan terakhir yang baru saja dinobatkan, Bernad Wilhelm Lapian. 
 
pic: wikipedia